Ya, kamu..

9:48:00 PM


Untukmu yang berdiri di kejauhan dan menonton.
Sudah lelahkah kamu berdiri?
Masih tertahankah pedihnya menatap yang kau inginkan bersama orang lain yang bukan dirimu?

Dirimu yang setia menanti berbaliknya punggung itu. Yang bersedia menampung segala kesah dan laranya. Dirimu yang sudi mengisi kekosongan yang tak mampu terisi dia yang lain. Sampai kapan kamu menjadi pemain cadangan untuk pertandinganmu sendiri?

Kamu sungguh percaya bahwa dia sama menyayangimu , tapi kamu tidak mengerti mengapa dia tidak bertolak darinya dan tinggal disisimu selamanya.

Ah..dia hanya butuh waktu.

Itu mantra yang kau ucap berkali-kali hingga terasa biasa. Sama halnya dengan hubungan bolak-balik kalian. Rasanya sudah biasa, rasanya tiada yang janggal. Dengan waktu kamu sudah menerima jabatan barumu.

Tapi apakah ini semua akan bertahan?

Jujurlah bahwa hati kecilmu menjerit setiap kali senyumnya tersungging. Kamu sakit. Dia sakit. Hubungan kalian tak lain serupa minuman ber-alkohol yang terasa hangat dan menyenangkan. Kalian bahagia meminumnya, kalian tak tahan godaan hangat yang terasa menjalan sampai ke ubun-ubun. Kalian sadar betapa salahnya semua ini, namun kalian menolak berhenti.

--

“ lain kali mungkin kita harus coba tempat baru. Restoran cepat saji hanya membuat kita tambah gemuk. “ 
“ memang kamu mau coba ke mana, ellen?”
“ ku dengar ada kafe baru dekat kantormu. Minggu depan bisa, Gas?”
“ tentu.”

Heran, percakapan singkat saja sanggup melukaimu. Kamu sangat berharap bahwa kalian masih punya minggu depan untuk dilewatkan. Kamu sungguh takut dalam seminggu dia berubah dan menolak mabuk romansa denganmu lagi.

--

“ Ku bilang apa, makanan disini sehat kan? Kamu tidak perlu fitness lagi Gas !”
“ Aku fitness bukan untuk kurus Ellen, berapa kali ku katakan”
“ lantas untuk apa?”
Supaya dalam beberapa saat aku sanggup tidak memikirkanmu.
“ ya supaya sehat lah”
Dia tersenyum dan mulai bersandar di bahumu. Dia mulai bercerita banyak soal harinya, kejadian-kejadian lucu yang dia lewatkan. Kamu bertanya-tanya, sudahkah dia bercerita padanya? Ah, Kamu lelah terbandingkan. Mimpimu saat ini hanyalah menjadi satu. Tapi dia seakan tidak sadar.

“Ellen, apa kamu sudah bertemu dia?”
“ Gas, kita tidak usah bahas ini..”
“ Baik. “
Kamu adalah seorang kepala kantor, di kantor semua orang akan menunduk dan mengerjakan apapun yang kamu bilang. Namun dia, tanpa hierarki jabatan yang jelas sanggup memerintahmu. Dan membuatmu menurutinya.

Tapi selama kalian mabuk romansa bersama, kamu tidak akan keberatan.

--

Dia menghilang.
Sudah seminggu dia menghilang dari lingkaranmu. Walau kamu mencarinya seperti orang kesetanan dia tidak bisa kamu temukan. Dia resmi menghilang dan kamu merasa hampa. Dia kini adalah syarat utama eksistensimu sebagai manusia yang utuh.

Mendadak ringtone khusus untuknya terdengar. Aneh, begitu yang kamu cari menghampirimu, kamu bahkan takut untuk sekedar menekan tombol handphone.

“tolong aku Gas..”
Dia menangis dan tanpa peduli meeting yang harus kamu hadiri, kamu melesat menuju apartemennya. Kamu begitu takut dan kalut. Dia yang begitu dewasa dan kuat meminta tolong padamu.

“ Kamu baik-baik saja Ellen?”
“ Bagas, dia meninggalkanku..”

Lalu kamu melihat matanya yang sembab, air matanya yang masih saja mengalir. Hatimu tidak pernah sesakit ini. Dipelukmu dia menangis hingga kelelahan dan tertidur. Tapi tidak dirimu.

Kamu terjaga.

Kamu sadar.

Bahwa selama ini kamu hanya penonton, bukan pemain cadangan. Kini sang bintang telah pergipun kamu tak akan pernah masuk ke lapangan. Kamu hanya akan menonton. Ya, penonton.

Dan hatimu terlalu letih untuk itu.

Maka dengan lembut kamu menidurkannya di sofa dan memastikan selimut membungkus tubuhnya dengan benar. Lalu kamu memandanginya, menahan gemuruh yang bertanya-tanya kapan kamu dapat memandangnya sedekat ini lagi. Dengan satu kecupan, kini giliranmu yang berbalik. Memunggunginya.




Mencari lapanganmu sendiri..

You Might Also Like

0 comments

Powered by Blogger.