koar koar

4:56:00 AM

Saya paling sebel, sama orang yang banyak koar-koar tanpa tau apa yang dia ucapkan.
Maksud mengkritik? Bisa bahasanya dibatasi? Bisa dipelajari dulu kah sebelum berani memaki-maki?

Sebagai sesama rakyat, saya juga kecewa kok sama pemerintah. Apalagi untuk periode ini. Pernah saya koar-koar? Rasanya saya belum cukup berilmu untuk memaki mereka yang diatas sana. Apalagi untuk memutuskan mereka salah. Apalagi untuk sok-sokan memberi solusi. Kalau ada kata yang keluar, kebanyakan berdasar dari pemikiran sendiri "ah pasti uangnya diambil", "ah ada main itu ketuanya" atau ah-ah yang lainnya. Pemikiran? Bukan. Itu namanya Prasangka. Prasangka Buruk. Dan agama saya, melarang itu.

Jalanan yang jelek? 
Bensin yang mahal?
Saya tahu. Saya juga mengalaminya.

Anggota DPR seenaknya?
Korupsi-korupsi?
Saya tahu. Biar tidak betulan mengalaminya, tapi saluran tv kita kebanyakan sama.

Yang saya bingung. Kenapa semudah itu orang termakan isu?
Bukan, bukan, bukan. Saya bukan pro pemerintah. Seperti yang saya bilang tadi, saya juga sama kok. Kecewa sama mereka.

Tapi sedikitnya saya bisa melihat dari sisi yang lain. Sedikitnya bisa memanusiakan orang -orang yang kita sebut-sebut sebagai pemerintah sedari tadi. Generalisasi itu tidak baik. Kasihan bapak-bapak yang sudah mengabdi dengan sepenuh hatinya, yang dengan semena-mena kita anggap buruk karena kelakukan oknum. 

"apa yang sudah kamu lakukan untuk negaramu?"
Negara kita ini miskin kawan, coba kalian lihat tumpukan hutang kita. Salah siapa?
Bisa jadi salah kita semua, gak melulu orang pemerintahan yang dengan lantang kita suarakan kebijakannya merugikan.

Masih beli dvd bajakan? 
Masih unduh lagu-lagu dengan tidak legal?
Masih beli barang BM?
kalau iya, ko berani-berani kita memaki orang lain. Ko berani berani meminta banyak.
Kita juga salah toh. Kita juga korupsi toh.
Pajak yang seharusnya bisa digunakan untuk perbaikan jalan, untuk biaya kesehatan masyarakat kecil, tidak kita bayarkan. Masih berani bilang kita benar?

Coba kalian posisikan diri kalian menjadi mereka. Benar-benar di posisi mereka.
Bisakah kalian lebih baik?
Bisakan kalian memberikan perubahan yang kalian teriakkan sekarang?
Jangan-jangan kalian ini, kita ini sama saja. Bedanya kalian atau kita ini belum punya kesempatan saja.

Tidak, saya tidak meminta kalian semua untuk diam. Kritikan itu bagus tentu saja. Mereka yang diatas kadang memang perlu diingatkan. Saya cuma minta, dari awal tadi, untuk memperhalus bahasa. Untuk mengetahui dengan benar apa yang mau kalian teriakkan.

Saya sih, malas teriak-teriak. Kadang tidak terdengar, capek.
Alternatifnya, seperti yang guru sd saya bilang, dan teman-teman kuliah saya bilang, saya kuliah saja dulu yang benar. Jadi orang, lalu buat perubahan. Dan kalau sialnya kelak tidak bisa merubah, setidaknya jangan sampai ikut-ikutan, itu prinsipnya. Bagi saya, bangsa ini terlalu banyak orang nyinyir, yang kadang lupa akan kewajibannya. 

Lantas kenapa saya koar-koar disini yang seakan menyalahkan yang koar-koar disana?
Lagi, saya ingin memberi pemikiran lain. Tolong jangan memalukan, apalagi sampai anarkis. Niat mau menyelesaikan masalah kok bikin masalah baru.

Mari kawan-kawan, berbuat baik mulai dari diri sendiri. Terlalu banyak memaki orang lain kadang membutakan kita akan kejelekan sendiri. Bangsa ini memang butuh perubahan. Perubahan kitalah yang mereka sebut generasi  muda, yang  mereka butuhkan. Jangan sampai sekarang maki-maki, kelak malah malah balik dimaki-maki.
Dimana letak perbedaannya kalau begitu?

You Might Also Like

0 comments

Powered by Blogger.